Safir Cinta w Novel Safir Cinta

Judul: Safir Cinta

Penulis: Faradina Izdhihary

Penerbit: WritingRevo Publishing

Tebal: 276

Harga: Rp 45.000,-

ISBN: 978-602-18484-4-9

 

Sanjungan untuk Pembacaan Safir Cinta

 

“Sedikit novel yang bisa mengajak pembaca terlibat dalam cerita, dan novel ini salah satunya. Gagasannya intim, begitu dekat. Ceritanya membersit dari hati penulis ke lansekap humanisme yang universal. Sehinggalah, boleh saya katakan: beginilah semestinya sebuah roman modern dituliskan.”

 Ilham Q. Moehiddin

esais, cerpenis & penulis Trilogi#1 Garis Merah di Rijswijk

Novel Unggulan Republika 2012

 

Excellent! Sungguh cerita yang penuh misteri, sehingga penasaran jika tidak tuntas membacanya. Perjalanan cinta yang pelik, ada dendam namun ada ketulusan yang dalam. Penuh pelajaran berharga di dalamnya. Awesome! Oleh Mbak Fara yang sedemikian cerdas meraciknya dengan kajian berbagai kajian ilmu, sehingga pantas Safir Cinta menjadi judul novel ini.”

Elis Tating Bardiah

pengajar dan penulis dari Bandung

 

“Kisah yang mengharukan tentang luka batin masa lalu seorang perempuan. Penuturan dengan gaya bahasa khas perempuan yang lembut menjadi daya tarik di novel ini, konflik psikologis yang diangkat juga menambah daya tariknya. Dialog-dialog panjang tidak mengurangi rasa ingin tahu pembaca. Di bagian ending, penulis menutup kisahnya dengan kalimat-kalimat yang membuat rasa ingin pembaca terjawabkan. Inilah novel dengan suara hati perempuan…”

Fanny Jonathan Poyk

jurnalis dan cerpenis

 “Kisah dua sahabat sejatinya selalu menarik, apalagi ada thriller kisah pembunuhan di dalamnya. Suka banget. Kisahnya naik turun tak terduga. Ketika kita menebak sesuatu, di depan tebakan kita dibantah dengan kejadian baru yang muncul. Novel yang bikin penasaran.”

Ade Anita

ibu rumahtangga dan penulis

“Membaca novel ini akan mengajarkan kehidupan kaum perempuan yang sesungguhnya kepada kita. Perempuan yang selama ini kita anggap berdosa dan kita singkirkan dalam kehidupan masyarakat. Tanpa kita tahu ada apa di balik kisah mereka. Novel ini mampu menarik kita menjadi tokoh di dalamnya. Kita bisa mengerti dan memahami tanpa merasa digurui. Novel yang wajib dibaca oleh perempuan dan yang mencintai perempuan.”

Annisa Ae

ibu rumah tangga dan penulis

 

“Faradina Izdihary membuat getaran hati pembaca membawa kita pada cerita kelam, lalu dengan sangat teduhnya mengarahkan pada keihlasan tuk bersujud kepada Allah SWT. Novel ini sekan menyadarkan kita bahwa banyak rahasi dalam hidup yang sulit ditebak.”

Mappajarungi

wartawan dan penulis novel  Gadis Portugis

 

“Banyak guru yang mengaku sibuk mengajar sehingga tidak punya waktu untuk menulis. Tapi guru yang satu ini berbeda, kesibukannya sebagai pendidik tak mengurangi kecintaannya pada menulis yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Karyanya dalam bentuk novel, cerpen dan puisi terus mengalir. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis. Selamat, Bu.”

Husnun Djuraid

Ustadz, kolomnis, dan wartawan Malang Pos

 

Safir Cinta mengangkat masalah wanita dari sudut pandang yang berbeda. Penulis berhasil menggambarkan perjuangan perempuan kaum marjinal dalam  upayanya meraih kesuksesan lengkap dengan konflik psikologi para tokohnya. Tak hanya mengaduk-aduk perasaan, tetapi juga  menggedor-gedor perasaan karena protes kerasnya terhadap realitas sosial digambarkan dalam bahasa yang puitis.”

Mega Vristian

penulis  dan penggiat sastra BMI Hongkong

“Mengalir, mengharu biru, mengenaskan, mengocok emosi, sedih, pilu, haru, berbaur jadi satu. Sebuah kisah yang ditulis begitu indah oleh Bunda Faradina ini terasa begitu nyata. Pendek kata, ini cerita yang sangat layak untuk dibaca! Pembaca seperti disuguhi pelajaran hidup yang disampaikan dalam bahasa yang indah, sehingga tanpa sadar Anda telah sampai di akhir cerita.”

Setiawan D Chogah

mahasiswa dan cerpenis

“Dengan narasi yang cerdas, Faradina telah berhasil membuat saya jatuh cinta dan bertahan membaca novel ini. Faradina mampu mengolah rasa perempuannya mengalir. Novel ini tidak sekedar mengajak kita untuk membaca naskah, tetapi juga membaca ketulusan dan ide cemerlang penulisnya yang memesona. Sesuai dengan judulnya, Safir Cinta, ini novel yang berharga.

Ach. Nurcholis Majid

peraih Anugerah Pena FLP Award 2009,

pembina SSRI dan Sanggar Sastra AL-AMIEN Prenduan

“Dunia ini memang panggung sandiwara. Panggung ini diceritakan secara piawai oleh Faradina dalam novel ini. Sedih dan bahagia bercampur-aduk.”

Bamby Cahyadi

cerpenis

  “Membaca novel ini, sungguh menguras air mata. Penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki senantiasa meninggalkan luka turunan, yang tidak saja mengoyak-ngoyak kehormatan, juga luka batin yang membatu. Gaya penuturan penyair, cerpenis dan novelis Faradina patut diacungi jempol.

Weni Suryandari

penyair dan cerpenis

 

“Membaca Safir Cinta, maka ingatan saya tertuju pada “Sri Sumarah”, cerpen fenomenal karya Umar Kayam. Namun, penulis mengemasnya dalam bentuk lain. Tidak lagi menempatkan perempuan berada dalam posisi yang marginal, lemah, dan tak berdaya dalam hegemonitas laki-laki. Sajian yang di kemas lebih religi dan berkaca pada kondisi kekinian masyarakat kita. Novel ini layak untuk kita apresiasi.”

Mukhanif Yasin Yusuf

                                                                                                                      mahasiswa Sastra Indonesia, UGM



PinExt Novel Safir Cinta

Komentar ditutup.